Unggah Foto Rontgen Paru-paru Pasien Covid-19 yg Divaksin & Tidak, Dokter Ini Jelaskan Kondisi Pasien hingga Peringatkan Satu Hal Penting Ini

oleh

Slotshopee.com

Unggah Foto Rontgen Paru-paru Pasien Covid-19 yg Divaksin & Tidak, Dokter Ini Jelaskan Kondisi Pasien hingga Peringatkan Satu Hal Penting Ini

,

Online – Belum lama ini publik dihebohkan dengan sebuh foto rontgen paru-paru pasien Covid-19.

Foto tersebut diunggah oleh seorang dokter bernama Dr Anne Gabriel Chan.

Dr Anne Gabriel Chan mengunggah foto rontgen pasien Covid-19 yg sudah divaksin & belum divaksin.

Dilansir dari Tribunnews.com, diungkpakan ada empat foto hasil rontgens.

Dari keempat foto rontgen tersebut disebutkan tiga kondisi paru-paru pasien yg sudah divaksin dengan Sinovac, Astrazaneca & Pfizer.

Tiga diantara foto rontgen tersebut adalah pasien tanpa gejala hingga gejala ringan karena sudah divaksin.

Sedangkan bagi pasien yg belum divaksin mengalami gejala berat seperti sesak napas bahkan hingga dirawat di ICU.

“Pasien ini datang dengan terengah-engah. Dia menderita Covid-19 yg parah, artinya dia memiliki kebutuhan oksigen yg sangat tinggi, perlu dirawat di ICU & memerlukan prosedur invasif seperti Hemoperfusi,” tulis Gabriel-Chan di Facebook.


Tujuannya mengunggah potret tersebut untuk menumbuhkan pencerahan masyarakat supaya mau & segera divaksin.

Dr Anne Gabriel Chan menuturkan vaksin memang tidak sepenuhnya menyembuhkan Covid-19, namun dapat menolong pasien terhindar dari gejala berat hingga masuk ruang ICU.

“Ya, Anda masih dapat terkena Covid-19 meski sudah divaksinasi lengkap, tetapi beberapa akbar mengalami gejala ringan.”

“Anda akan lebih terlindungi & mengurangi kemungkinan jadi parah atau ditempatkan di ICU. #vaccineswork,” mengatakan Gabriel-Chan.

Ia juga menjelaskan semua vaksin memiliki kegunaan yg sama, & tidak ada istilah vaksin ini lebih unggul dari vaksin yg lain. Yang paling penting kegunaan vaksin tersebut.

“Ingat, pasien ini memiliki platform & merek vaksin yg berbeda, tetapi semuanya memiliki gejala ringan hingga hampir tidak ada gejala sama sekali,” tambahnya.

Terkait vaksinasi, pemerintah Indonesia pun tengah gnecar mengerjakan vaksinasi di tiap-tiap daerah.

Sayangnya masih ada kendala yg terjadi di lapangan dalam pelaksanaan vaksinasi di Tanah Air.

Diberitakan Kompas.com, diungkapkan terhambatnya vaksinasi Covid-19 terjadi karena stok vaksin yg kuran di jumlah daerah.

Beebrapa daerah yg komplain tentang hal tersebut dari Sumatera Selatan & Jawa Tengah.

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Lesty Nuraini mengatakan, sejak Januari hingga Juli 2021 mereka cuma mendapatkan sebanyak 1,6 juta takaran vaksin Covid-19. Dari total jumlah tersebut cuma tersisa 100.000 takaran untuk tahap kedua.

“Sisa vaksin tidak ada lagi, dapat dikatakan habis. Kalau pun ada itu untuk takaran dua,” mengatakan Lesty dalam pemberitaan Kompas.com, Rabu (21/7/2021).

Hal senada dilontarkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia mengeluhkan kurangnya stok vaksin yg dialokasikan oleh Kementerian Kesehatan. Kurangnya stok vaksin mengakibatkan jumlah cakupan vaksinasi di Jawa Tengah masih rendah.

Tak cuma kekurangan stok, proses vaksinasi di lapangan juga terkendala masalah birokrasi.

Melalui media sosial Twitter, sejumlah warga mengaku sulit mendapatkan vaksin karena persoalan birokrasi.

Seorang warganet bercerita soal kerabatnya yg gagal mengikuti vaksinasi karena kartu tanda penduduk (KTP) barunya hilang & cuma memiliki KTP yg lama.

Ironisnya, tak lama setelah gagal mendapat vaksin, kerabat warganet itu disebut terpapar Covid-19 kemudian meninggal dunia.(gridpop.id)